Home
Content
Methodistnews

Methodistnews

Methodist News

SAMBUTAN REKTOR
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA

 

Dengan memanjatkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, saya menyambut baik, atas terbitnya Majalah Methodist News Edisi ini yang diharapkan menjadi media informasi untuk seluruh sivitas akademika, para penulis berupa tulisan karya ilmiah, artikel, karya tulis dan yang lainnya

Kehadiran Majalah ini di lingkungan Universitas Methodist Indonesia, memiliki arti yang penting sebagai media yang diharapkan dapat mengaktualisasikan visi dan misi UMI pada umumnya dan pada khususnya melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi di tengah tengah masyarakat, sekaligus sebagai media yang diharapkan dapat mentransformasikan budaya menulis dan kultur ilmiah yang merupakan atribut yang melekat dari sebuah Perguruan Tinggi

Kultur ilmiah akan terbentuk manakala Perguruan Tinggi sebagai intitusi ilmiah dan civitas akademika dalam mewujudkan diri sebagai masyarakat ilmiah senantiasa peduli, dan memiliki hasrat terhadap berbagai tantangan, permasalahan dan mengkajinya secara ilmiah sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasainya, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan berupa karya tulis, hasil penelitian, prestasi lembaga, prestasi sumber daya manusia dan informasi akurat lainnya.

Sehingga media ini menjadi salah satu media informasi dari universitas Methodist Indonesia yang dapat dikonsumsi oleh msayarakat umum terkhusus masyarakat pendidikan.

Ide-ide, skenario bahkan pengalaman yang dimiliki oleh penulis, jika tidak dituangkan dalam tulisan menjadi sebuah ide yang tidak bermanfaat. Namun jika dituliskan akan menjadi sangat bermanfaat bagi ribuan pembaca.

Akhirnya, saya mengajak kepada seluruh civitas akademika UMI  dapat memanfaatkan majalah ini untuk berekspresi, berkreasi melalui tulisan yang bermanfaat. Untuk pengelola majalah agar tetap meningkatkan kualitas informasi yang dapat bermanfaat untuk semua kalangan. Semoga Majalah ini dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemajuan Universitas Methodist Indonesia. Selamat membaca, berkarya dan Terimakasih.

Rektor,

Ir. Pantas Simanjuntak, MM





Methodist News
BERITA...........
KARYA ILMIAH .............
LIPUTAN............
GALERY............
NEWS..........




RELATIVITAS BAHASA DAN RELATIVITAS BUDAYA DALAM BERBAGAI MASYARAKAT BAHASA
Oleh      : Sevendy Napitupulu dan Karana Jaya Tarigan

 

I.PENDAHULUAN

Istilah relativitas bahasa dan relativitas budaya mungkin saja masih baru bagi sebahagian orang meskipun konsep ini sudah ada sejak awal abad ke 19 sehingga penulis ingin menjelaskan secara ringkas pengertian kedua konsep ini sebagai berikut: Relativitas bahasa (Linguistic relativity) merupakan konsep hipotesa bahasa yang dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) yang mengatakan “ A person’s native language defines the way he perceives and interprets his world”. Hipotesa ini mengemukakan adanya kemungkinan – kemungkinan pengaruh bahasa ibu menginterprestasikan budaya orang lain khususnya dalam norma – norma budaya, kepercayaan dan nilai – nilai. Dengan kata lain dalam suatu budaya, bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan bagaimana masyarakat pada budaya tertentu merasa (perceive) dan memahami (understand) dunia sekitarnya dan dunia luar. Sedangkan relativitas budaya (culture relativity) merupakan sebuah konsep budaya – budaya orang lain diperlukan juga penilaian yang lebih luas tentang budaya kita sendiri. Dari pernyataan diatas dapat dilihat adanya hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi antara bahasa dan budaya.

Kajian tentang lintas budaya (cross culture) seperti ini dibutuhkan untuk menemukan adanya kesemestaan budaya dan kesemestaan bahasa (culture universals) dan (language universals) yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Anthropolog George Peter Murdock (1945) mengidentifikasikan lebih dari enam puluh (60) kesemestaan budaya yang meliputi:

  1. Perkawinan
  2. Perhiasan – perhiasan tubuh
  3. Tari – tarian
  4. Mitos
  5. Legenda
  6. Masakan
  7. Kata – kata kotor
  8. Peraturan – peraturan harta warisan
  9. Upacara keagamaan
  10. Adat istiadat
  11. Sistem sapaan
  12. Sistem keakraban dan lain - lain

Adanya pepatah bahasa Melayu yang berbunyi “bahasa menunjukkan bangsa”. Maksudnya antara lain ialah bahwa ada kesopanan yang terkandung di dalam bahasa itu sering mencerminkan tingginya peradaban suatu bangsa, atau tingginya martabat seseorang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ada beberapa hal dari bahasa itu yang dapat dipakai untuk menandai maju dan mundurnya kebudayaan sesuatu bangsa. Perbendaharaan unsur fonologi dan morfosintaksis, kiranya tak dapat dipakai sebagai cermin kemajuan kebudayaan itu. Tetapi perbendaharaan kata dan idion jelas mencerminkan ide dan pengalaman  - pengalaman yang pernah dan sering dihayati oleh suatu bangsa. Ragam tutur mencerminkan adat sopan santun bangsa sehubungan dengan sikap – sikapnya terhadap berbagai peristiwa dan situasi bicara. Dialek mencerminkan kelompok – kelompok masyarakat yang membentuk bangsa itu. Tingkat tutur mencerminkan adat sopan santun sehubungan dengan berbagai status sosial yang dimiliki oleh anggota masyarakat, sehingga dalam makalah ini dapat dilihat hubungan timbale balik antara relativitas bahasa dan relativitas budaya yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Relativitas bahasa adalah topic tua yang tetap menarik. Hampir seabad yang lalu, Sapir (1921) membahas kaitan tak langsung antara bahasa dan budaya , serta kekhasan struktur bahasa yang sangat menentukan bentuk sastra, terutama puisi. Era Bloomfieldian di Amerika juga dipengaruhi oleh relativitas bahasa, seperti dinyatakan oleh Joos (1957 – 1996)”Language could differ from each other without limit and in unpredictable ways”. Relativitas bahasa yang merupakan postulat dalam linguistic murni, mendorong lainnya analisist Kontrastif terapaan kerya pembukaan yang dipelopori oleh Fries 1945) dan lando (L1957).

                Sejak pertengahan dasa warsa 1960an, ketika posisi generative menjadi semakin dominan, relativitas bahasa terpinggirkan diriku oleh (Universalitas kesemestaan)bahasa. “ Chomsky (1965), bukan hanya menawarkan substantive universals, tetapi juga formal universal yang pertama merujuk pada unit bahasa yang berikan universal, misalnya kaidah informasi dan prinsip ketergantungan struktur (struktur – dependent – principle). Kemudian, bersamaan dengan timbulnya ambisi untuk menjelaskan hakekat universal jauh. Mereka Sambisi universal semakin jauh. Mereka asyik dengan I;Language (bahsa sebagai relitas mudah), sehingga mengabaikan E – Language (bahasa sebagai realyijas social. Dalam paradigm chomskyan. Universalitas (kesemestaan) bahasa dibatasi oleh pustulaus “Language is mirrow of the mind”

Sebagai reaksi terhadap pendekatan mentalistik formal ini, relativitas bahasa muncul kembali, antara lain melalui pragmatic, sosio linguistic, etnolinguistik (Lavendera 1988). Pada pakar dalam ketiga bidang ilmu bahasa ini, lebih tertarik pada fungsi dan penggunaan bahasa dalam konteks Interpersonal maupun sosiokultural. Mereka lebih percaya pada adagium “ Language is a mirror of the society” atau “language a mirror of the culture”. Dalam konteks demikian, tulisan ini membahas relativitas bahasa dikaitkan dengan relativitas budaya, dengan menggunakan dua acuan:

  1. Hipotesa Sapir – Whort (Slobin, 1996),

Yang menyatakan bahwa cara kita melihat realitas dipengaruhi oleh bahasa pertama kita (“ A person’s native language defines the way he perceives and interprets his world). 2. Hudson (1980) yang menyatakan bahwa bahasa yang dilingkupi oleh ranah budaya sering mencerminkan nilai – nilai budaya yang khas pula, dalam analisis ini menggunakan “leksikalisasi”, gramatisasi dan verbalisasi yang dikaitkan dengan konsep Saussurean “penanda (signifier) dan  “petanda” (signified), dan diproyeksikan secara lintas – bahasa dan lintas budaya.

  1. Leksikalisasi dan Gramatisasi lintas bahasa

Menurut de Saussure (1959), setiap kata adalah tanda arbitrer (arbitrary sign) yang terdiri atas penanda (signifier) dan penanda (signified) atau bentuk dan makna. Proyek makna menjadi bentuk yang menghasilkan kata adalah “leksikalisasi”. Sedangkan proyeksi makna menjadi bentuk yang menghasilkan penanda gramatik adalah “gramatisasi”.

Lebih jelasnya, “leksikalisasi dalam tulisan ini berarti proyeksi makna atau konsep yang menghasilkan kata (misalnya konsep “orang kedua” bias menjadi kamu, engkau, andan , atau saudara, Bapak, Ibu, dan Beliau dalam bahasa Indonesia, tetapi hanya menjadi you dalam bahasa inggris dan “gramatisasi” berarti proyeksi konsep yang menghasilkan penanda gramatik (misalnya, konsep lebih dari satu atau jamak, terkadang menjadi reduplikasi dalam bahasa Indonesia, tetapi lazim menjadi – s dalam bahasa inggris). Berikut akan dibicarakan leksikalisasi dan gramatisasi yang keduanya diproyeksikan pada lanskap (landscape) sosiokultural masing – masing.

Secara lintas budaya, menarik jika kita lihat adanya leksikalisasi tak sepadan dan leksikalisasi timpang. Dengan membandingkan bahasa Indonesia dan Inggris, leksikalisasi tak sepadan Nampak, misalnya pada kata padi, gabah, beras, nasi = rice atau sebaliknya pada kata cara Way, manner, method, technique, mechanism.

Contoh pertama menunjukkan keakraban masyarakat Indonesia terhadap makanan pokoknya, sedangkan contoh kedua menunjukkan pesatnya perkembangan sains dan teknologi pada masyarakat berbahasa Inggris. Contoh lain yang menarik adalah: belimbing’star – fruit’, terong’eggplant’, kecipir’ wingplant’,kemiri’candle nut’, serai’lemon – grass’, sukun’breadfruit’, tahi lalat’birth mark’, ingusan’ running nose’, jakun’Adam’s apple;, kates/pepay’paw – paw, nanas’pineapple’, putrid malu (semacam tumbuhan) ‘touch me not’, mau tidak mau’ willy – nilly’, jangan putus asa’ never say die’, bintang fajar’ morning star’, karangan bunga’ posy’, daftar gaji’ payroll’, gali lobang tutup lobang’ to rob peter to pay paul’ dan lain – lain. Contoh seperti ini jumlahnya sangat terbatas, namun dapat disebut sebagai “leksikalisasi kreatif”.

Star – fruit means “fruit when cut into two halfs looks like a star, eggplant suggests plant that looks like an egg; and lemon grass implies “grass that taste likelemon”.

Leksikalisasi timpang berarti kata yang ada dalam bahasa A tidak memiliki padanan dalam bahasa B. Contoh mati – matian dalam bahasa Indonesia sulit sekali mencari padanan katanya dalam bahasa karo juga memiliki kesulitan bila dicari padanannya dalam bahasa inggris. Hal ini terlihat, misalnya pada hasil penelitian antropologi tentang kepercayaan lokal di Jawa. Berkaitan dengan nama – nama mahluk halus di Jawa, antropolog Geertz (1960 : 126) memberikan catatan sebagai berikut :

  1. Memedis             : Frightening spirits
  2. Lelembus            : Possessing spirits
  3. Thuyuls               : Familiar spirits
  4. Dhanyangs          : Guardian spirits

Temuan seperti itu tentu mengundang senyum, karena thuyls dan lelembus jawa sempat juga menyerang ke Amerika. Perhatikan bahwa untuk setiap kata bahasa jawa, terjemahan inggrisnya terpecah menjadi dua kata dan selalu mengandung kata “spirits”. Ini mengisyaratkan bahwa spirits of different kinds dalam kepercayaan jawa memiliki arti khusus, sehingga masing – masing muncul sebagai satu kata yang khas. Dalam kepercayaan Agama Pelebegu (pemena) dalam masyarakat karo juga dijumpai hal yang sama seperti :

  1. Begu jabu    : Guardians spirits
  2. Begu juma  : Rice field guardian
  3. Begu              : Spirits/ghost
  4. Umang         : Small spirits
  5. Begu ganjang             : Tall spirits

Kesantunan adalah nilai budaya bersifat universal, namun dalam kaitannya dengan leksikalisasi ada perbedaan mencolok antara bangsa jawa dan Inggris. Dalam bahasa jawa, bahasa batak toba, bahasa karo, bahasa jerman, bahasa prancis, bahasa yunani, bahasa italia, seperti pada contoh dibawah ini:

  1. Bahasa batak toba You : Hamu dan Ho
  2. Bahasa batak karo : Kam, Kena dan Engko
  3. Bahasa Jerman ou : Sie and du
  4. Bahasa prancis You : Tu and Vous
  5. Bahasa yunani You : Esi dan esis
  6. Bahasa italia You : tu dan lei
  7. Bahasa swedia You  : (du/ni
  8. Bahasa rusia You : (ty/vy

Kesantunan menembus kedalam sistem leksikalisasi bahasa – bahasa diatas, tetapi dalam bahasa Inggris tidak. Leksikalisasi atau pronominal kedua dalam bahasa inggris hanya menghasilkan satu bentuk You, sedangkan dalam bahasa jawa menghasilkan 3 bentuk : Kowe, Sampeyan , Penjenengan.

Ketiga pronominal tersebut diproyeksikan dari poros paradigmatic ke poros sintagramatik you menghasilkan tuturan tak bertingkat dalam bahasa inggris, sedangkan kowe, sampeyan dan penjenengan menghasilkan tiga tingkat tutur seperti yang dikemukakan Joos dan LABOV (1968). Seperti ngopo (rendah), madya (sedang), dan karma (tinggi). Selain hal ini, dalam budaya jawa adanya semacam “honorific”. Dalam bahasa jawa, bahasa sehari – hari (BS), masih eksis (hidup) pula bahasa jawa ragam panggung (RP). Maka selain ketiga pronominal bahasa sehari – hari tersebut, ada pula dua pronominal ragam panggung yaitu sira dan panduka.

Relativitas Bahasa ...........Download File